SELAMAT IDUL FITRI 1438 H - 2017
-
Dengan datangnya LEBARAN 1438 H / 2017 M,
*Segenap management moslemmuslimah shop mengucapkan :*
*SELAMAT IDUL FITRI 1438 H*
*"Minal Aidin Wal Faidz...
Al-Qur'an dan Terjemahan
Posting ini untuk mempermudah mendengar,membaca dan menela'ah terjemahan ayat al-quran
Blue Ocean Strategy, Mengubah Persaingan Menjadi Keuntungan
Blue Ocean Strategy (strategy lautan biru) merupakan strategi bisnis dengan mencoba untuk menawarkan barang atau jasa yang baru dan seringkali dilupakan oleh pebisnis lain.
Segarnya Es Kunyit Asam
Segarnya Kunyit dan Asam Jawa berpadu dengan Es, membuat nikmat dan segar cuaca yang sedang panas ....
Friday, 19 June 2015
Thursday, 18 June 2015
HAL-HAL YANG MERUSAK PAHALA PUASA

Puasa yang merupakan salah satu rukun Islam adalah ibadah yang sangat istimewa dimana Allah Ta’ala sendirilah yang akan membalas dan memberi pahala bagi pelakunya secara khusus. Allah Ta’ala merahasiakan pahala besar yang tak terbatas yang akan diraih seseorang jika ia dapat melaksanakan ibadah mulia ini dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan dan adab-adab puasa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di dalam sebuah hadits qudsi, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Allah Ta’ala berfirman : “setiap amal manusia adalah untuknya, kecuali puasa, maka sesungguhnya ia (puasa ini) adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya (secara khusus)” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan dasar iman dan mengharap pahala, niscaya diampunilah dosa-dosanya yang telah lampau” (HR. Bukhari dan Muslim)
Untuk catatan, para ulama mengatakan bahwa dosa-dosa yang terhapus karena puasa adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar (seperti berzina) maka pelakunya harus bertaubat yang sebenar-benarnya agar dosa-dosa itu juga diampuni oleh Allah Ta’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikesempatan yang lain bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya disurga ada sebuah pintu yang dinamakan ar Rayyan, orang-orang yang berpuasa sajalah yang akan masuk (surga) melalui pintu tersebut” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan banyak lagi janji-janji pahala yang dijanjikan kepada orang-orang yang menunaikan ibadah yang istimewa ini. Akan tetapi, disamping memberi kabar gembira tentang pahala-pahala puasa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mewanti-wanti kita agar jangan sampai melakukan hal-hal yang dapat mengurangi, merusak, bahkan bisa jadi melenyapkan pahala puasa itu.
Hal-hal yang Dapat Mengurangi dan Merusak Pahala Puasa
Di dalam hukum fiqih, jika seseorang berniat ibadah puasa dimalam hari (sebelum fajar menyingsing), lalu ia meninggalkan segala hal yang dapat membatalkan puasanya, seperti makan, minum, dan berhubungan intim dengan istri, maka puasanya dapat dikatakan sah. Artinya, telah terlepas kewajiban berpuasa darinya. Namun apakah hal tersebut pasti membuahkan pahala?
Pada dasarnya, segala perkara yang sia-sia
Berkata kotor, berteriak-teriak (bertengkar), bertindak bodoh, dan melakukan perkara yang sia-sia.
Sebagian orang yang berpuasa terkadang meskipun ia mampu menahan lapar dan dahaga, namun ia tidak dapat menahan lisannya dari perkataan yang kotor dan tidak senonoh. Ada juga yang tidak memahami salah satu hikmah puasa, yaitu melatih kesabaran, sehingga jika terjadi sedikit saja perselisihan maka hal tersebut mendorongnya untuk melakukan pertengkaran dan perdebatan dengan saudaranya sesama muslim. Yang lain berpuasa dengan “tekun” namun sembari berbuat usil terhadap orang lain, atau melakukan hal-hal yang tidak membawa manfaat baginya sama sekali baik manfaat di dunia maupun manfaat di akhirat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), ”Apabila seorang diantara kalian berpuasa maka janganlah ia berkata kotor, berteriak-teriak (bertengkar), dan bertindak bodoh. Jika ada orang yang mencela atau mengajaknya bertengkar maka katakanlah : ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa (dua kali)’ ” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berkata dan melaksanakan kedustaan:
Sebagaimana yang kita maklumi bahwa perbuatan dusta adalah perbuatan haram, baik bagi orang yang berpuasa maupun yang sedang tidak berpuasa. Namun perbuatan haram yang satu ini semakin besar dampak negatifnya bagi orang yang berpuasa. Bayangkan, seseorang berjuang menahan lapar dan haus, dan meninggalkan syahwat (berhubungung suami-istri) sejak terbitnya fajar hingga tenggelam matahari, namun apa yang ia dapatkan? Bisa jadi ia tidak mendapatkan apapun kecuali lapar dan dahaga disebabkan kedustaan yang ia lakukan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan melakukan sesuatu dengan dasar kedustaan itu, maka tidak ada gunanya ia meninggalkan makanan dan minumannya itu disisi Allah”(HR. Bukhari)
Mendengar, melihat, membicarakan, dan melalukan segala perkara yang diharamkan oleh Allah Hikmah syariat yang tertinggi yang berada dibalik perintah puasa adalah agar seseorang dengan ibadah puasanya ini dapat menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa juga telah diwajibkan atas umat-umat sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al Baqarah : 183).
Hakikat taqwa – sebagaimana disebutkan oleh para ulama- adalah melakukan semua yang dapat menjaga diri seseorang dari kemarahan dan siksaan Allah Ta’ala dengan cara menjalankan segala yang diperintahkan dan menjauhkan segala yang dilarang.
Oleh karena itu segala hal yang berseberangan dengan hakikat taqwa tentu dapat mengurangi bahkan bisa merusak pahala dan hikmah puasa itu. Jadi sangat disayangkan dan merugilah orang yang mampu berpuasa dengan menahan keinginan perutnya untuk tidak makan dan minum, namun anggota-anggota tubuhnya yang lain tidak dapat ia tahan untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat.
Banyak sekali orang yang ketika berpuasa dan ketika menunggu waktu berbuka yang penuh berkah, mereka tidak melewatinya dengan beramal sholeh dan melakukan hal-hal yang bermanfaat, namun justru menghabiskannya dengan sekian banyak perbuatan maksiat, baik yang diucapkan oleh lisan, seperti menggunjing orang (ghibah), mengadu domba sesama muslim (namimah), mencaci-maki orang, dan semisalnya, atau yang didengar oleh telinga, seperti mendengarkan musik dan mendengarkan lagu-lagu yang diharamkan, atau yang dilihat oleh mata, seperti menonton acara-acara maksiat, yang menampakkan fenomena aurat wanita yang bukan mahram, film-film atau drama-drama percintaan dan ajakan berbuat keji, ataupun yang dilakukan oleh anggota tubuh yang lain, seperti berpacaran, duduk bareng dipinggir jalan bersama lawan jenis dan semisalnya yang mereka lakukan dalam kondisi mereka sedang berpuasa dan sedang menunggu waktu berbuka puasa. Wa Laa hawla wa Laa quwwata illaa billaah.
Semua ini tanpa keraguan sedikitpun merusak nilai-nilai dan janji pahala puasa yang istimewa dari Allah Ta’ala dan merusak inti tujuan dan hikmah disyari’atkannya puasa itu sendiri, yaitu untuk meraih derajat taqwa.
Makan dan minum adalah perkara yang pada asalnya mubah dilakukan oleh orang yang tidak sedang berpuasa, namun ia menjadi haram dilakukan pada saat puasa, dan dapat membatalkan puasa. Akan tetapi bagaimana dengan perbuatan maksiat? Perbuatan maksiat kapan saja ia tetap haram, baik saat berpuasa ataupun tidak. Bahkan kemaksiatan yang merupakan keburukan ini akan semakin bertambah buruk jika dilakukan oleh seseorang yang sedang melaksanakan puasa, dibanding pada saat yang lainnya. Perbuatan maksiat itu dapat merusak keutuhan puasa dan dapat membatalkan pahala puasa yang telah dijanjikan Allah Ta’ala. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh hadits nabawi diatas, ”Apabila seorang diantara kalian berpuasa maka janganlah ia berkata kotor, berteriak-teriak (bertengkar), dan bertindak bodoh. Jika ada orang yang mencela atau mengajaknya bertengkar maka katakanlah : ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa (dua kali)’ ” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan hadits yang lain, “Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan melakukan sesuatu dengan dasar kedustaan itu, maka tidak ada gunanya ia meninggalkan makanan dan minumannya itu disisi Allah” (HR. Bukhari).
Penutup
Oleh karena itu, marilah kita berusaha melaksanakan puasa ini sesuai dengan hikmah tertinggi puasa itu sendiri, yaitu agar dapat menjadi hamba Allah Ta’ala yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, yaitu dengan cara mengikhlaskan ibadah puasa hanya untuk Allah Ta’ala dan menjalankan ibadah besar ini sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta meninggalkan segala hal yang dapat merusak nilai dan pahala puasa sebagaimana yang telah dipaparkan diatas. Wallahu a’lam.
Yuk Bagikan Artikel ini, semoga menjadi KEBAIKAN
bagi kita bersama..
Wednesday, 17 June 2015
KEUTAMAAN SHALAT TARAWIH DARI HARI PERTAMA SAMPAI HARI TERAKHIR
Dari Sayyidina Ali bin Abi Tholib Krw bahwa dia berkata : Nabi Muhammad SAW ditanya tentang keutamaan-keutamaan tarawih di bulan Romadhon, kemudian Beliau bersabda :
1. Pada malam pertama, Orang mukmin keluar dari dosanya seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.
2. Dan pada malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.
3. Dan pada malam ketiga, seorang malaikat berseru dibawah ‘Arsy: “Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat.
4. Pada malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan (Al-Quran).
5. Pada malam kelima, Allah Ta’ala memeberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di Masjidil Haram, masjid Madinah dan Masjidil Aqsha.
6. Pada malam keenam, Allah Ta’ala memberikan pahala orang yang berthawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.
7. Pada malam ketujuh, seolah-olah ia mencapai derajat Nabi Musa As. dan kemenangannya atas Fir’aun dan Haman.
8. Pada malam kedelapan, Allah Ta’ala memberinya apa yang pernah Dia berikan kepada Nabi Ibrahin as
9. Pada malam kesembilan, seolah-olah ia beribadat kepada Allah Ta’ala sebagaimana ibadatnya Nabi saw.
10. Pada Malam kesepuluh, Allah Ta’ala mengaruniai dia kebaikan dunia dan akhirat.
11. Pada malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.
12. Pada malam keduabelas, ia datang pada hari kiamat sedang wajahnya bagaikan bulan di malam purnama.
13. Pada malam ketigabelas, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari segala keburukan.
14. Pada malam keempat belas, para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya, bahwa ia telah melakukan shalat tarawih, maka Allah tidak menghisabnya pada hari kiamat.
15. Pada malam kelima belas, ia di doakan oleh para malaikat dan para penanggung (pemikul) Arsy dan Kursi.
16. Pada malam keenam belas, Allah menerapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan kebebasan masuk ke dalam surga.
17. Pada malam ketujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para nabi.
18. Pada malam kedelapan belas, seorang malaikat berseru. Hai hamba Allah, sesungguhnya Allah ridha kepadamu dan kepada ibu bapakmu.
19. Pada malam kesembilan belas, Allah mengangkat derajat-derajatnya dalam surga Firdaus.
20. Pada malam kedua puluh, Allah memberi pahala para Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan sholihin (orang-orang yang sholeh).
21. Pada malam kedua puluh satu, Allah membangun untuknya sebuah gedung dari cahaya.
22. Pada malam kedua puluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.
23. Pada malam kedua puluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.
24. Pada malam kedua puluh empat, ia memperoleh duapuluh empat doa yang dikabulkan.
25. Pada malam kedua puluh lima , Allah Ta’ala menghapuskan darinya azab kubur.
26. Pada malam keduapuluh enam, Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.
27. Pada malam keduapuluh tujuh, ia dapat melewati shirath pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.
28. Pada malam keduapuluh delapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.
29. Pada malam kedua puluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.
30. Dan pada malam ketiga puluh, Allah ber firman : Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hambaKu.
Akhirnya, semoga amal ibadah kita diterima dan kita mendapatkan pangkat dan derajat dari Allah sebagai seorang yang bertaqwa. Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin.
(Sumber Hadist dari Kitab Durotun Nasihin Bab Keistimewaan Bulan Romadhon karya Syaikh Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir Al-khaubawiyiyi)
Yuk Bagikan Artikel ini,semoga menjadi KEBAIKAN
bagi kita bersama..
Wednesday, 3 June 2015
DOA MENYAMBUT RAMADHAN
Ubadah bin Shamit menyampaikan bahwasanya Rasulullah saw mengajari sahabat doa ini menjelang bulan Ramadhan
"Ya Allah, selamatkanlah aku ke bulan Ramadhan, dan selamatkan Ramadhan bagiku, dan terimalah Ramadhan itu dariku"
(Kitabu Du’a Imam Thabrani #912-913, Hayatus Sahabah 3/182, Kanzul Ummal 8/584)
Thursday, 21 May 2015
11 HAL YANG HARUS DIINGAT SEBELUM MENGELUH
1. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik, pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali.
2. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
3. Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa, pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.
4. Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk, pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk didalam hidupnya.
5. Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istrimu, pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup.
6. Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu, pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.
7. Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu, pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.
8. Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya, pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.
9. Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir, pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.
10. Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu, pikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.
11. Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.
Semoga bermanfaat..
Berdoalah agar Allah selalu membukakan pintu ilmu, hikmah, taufiq, dan hidayah-Nya hingga menjadi orang-orang yang mengikhlaskan diri kepada Allah. Aamiin..
Rasulallah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1
(satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka
walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)
Subhanallah, Semoga kita dapat mengambil pengetahuan bermanfaat yang bernilai ibadah lewat tulisan ustad Yusuf Mansur ini dan mengamalkan dalam kehidupan sehari - hari. Aamiin
RAHASIA INTI MEMBANGUN KELUARGA SAKINAH
"Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman, 'hendaklah mereka
mendirikan shalat...'" Bagaimana membangun keluarga yang sakinah,
mawaddah, wa rahmah?
Nomor satu, hidupkan tuh yang namanya shalat
dengan bener. Udah pas apa belum. Maksudnya bagaimana?
Iya, sudah shalat tepat waktu belum? Berjamaah atau tidak? Menghidupkan shalat sunnah apa enggak? Kalau koreksian ini berhenti dijawaban, "enggak", mendingan ini dulu diberesin.
Jangan melangkah ke yang lain dulu. Kita beresin yang wajib dulu, baru dah kalau ini sudah beres, pasti semuanya bener. Karena memang shalat nomor satu.
Kita berdoa kepada Allah, semoga bukan hanya rumah tangga kita yang bahagia. Tapi juga rumah tangga anak mantu kita, cucu kita barangkali yang sudah berumah tangga, kita doakan
mudah-mudahan rumah tangganya menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Maka semoga Allah menjadikan rumah tangga kita seperti rumah tangganya Nabiyullah Adam dan Hawa. Dan seperti rumah tangganya Nabi Muhammad Saw dengan Khadijah al-Kubra. Aamiinn ya Rabbal'alamiin...
Subhanallah, Semoga kita dapat mengambil pengetahuan bermanfaat yang bernilai ibadah lewat tulisan ustad Yusuf Mansur ini dan mengamalkan dalam kehidupan sehari - hari. Aamiin
Nomor satu, hidupkan tuh yang namanya shalat
dengan bener. Udah pas apa belum. Maksudnya bagaimana?
Iya, sudah shalat tepat waktu belum? Berjamaah atau tidak? Menghidupkan shalat sunnah apa enggak? Kalau koreksian ini berhenti dijawaban, "enggak", mendingan ini dulu diberesin.
Jangan melangkah ke yang lain dulu. Kita beresin yang wajib dulu, baru dah kalau ini sudah beres, pasti semuanya bener. Karena memang shalat nomor satu.
Kita berdoa kepada Allah, semoga bukan hanya rumah tangga kita yang bahagia. Tapi juga rumah tangga anak mantu kita, cucu kita barangkali yang sudah berumah tangga, kita doakan
mudah-mudahan rumah tangganya menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Maka semoga Allah menjadikan rumah tangga kita seperti rumah tangganya Nabiyullah Adam dan Hawa. Dan seperti rumah tangganya Nabi Muhammad Saw dengan Khadijah al-Kubra. Aamiinn ya Rabbal'alamiin...
Subhanallah, Semoga kita dapat mengambil pengetahuan bermanfaat yang bernilai ibadah lewat tulisan ustad Yusuf Mansur ini dan mengamalkan dalam kehidupan sehari - hari. Aamiin
5 KONSEP MEMBANGUN KELUARGA BAHAGIA
1.DALAM KELUARGA ITU ADA MAWADDAH DAN RAHMAH (Q/30:21).
Mawaddah adalah jenis cinta membara, yang menggebu-gebu dan “nggemesi”, sedangkan rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap berkorban dan siap melindungi kepada yang dicintai. Mawaddah saja kurang menjamin kelangsungan rumah tangga, sebaliknya, rahmah, lama kelamaan menumbuhkan mawaddah.
2. HUBUNGAN ANTARA SUAMI ISTERI HARUS ATAS DASAR SALING MEMBUTUHKAN
seperti pakaian dan yang memakainya (hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna, Q/2:187). Fungsi pakaian ada tiga, yaitu (a) menutup aurat, (b) melindungi diri dari panas dingin, dan (c) perhiasan. Suami terhadap isteri dan sebaliknya harus menfungsikan diri dalam tiga hal tersebut. Jika isteri mempunyai suatu kekurangan, suami tidak menceriterakan kepada orang lain, begitu juga sebaliknya. Jika isteri sakit, suami segera mencari obat atau membawa ke dokter, begitu juga sebaliknya. Isteri harus selalu tampil membanggakan suami, suami juga harus tampil membanggakan isteri, jangan terbalik di luaran tampil menarik orang banyak, di rumah “nglombrot” menyebalkan.
3. SUAMI ISTERI DALAM BERGAUL MEMPERHATIKAN HAL-HAL YANG SECARA SOSIAL DIANGGAP PATUT (MA`RUF)
tidak asal benar dan hak, Wa`a syiruhunna bil ma`ruf (Q/4:19). Besarnya mahar, nafkah, cara bergaul dan sebagainya harus memperhatikan nilai-nilai ma`ruf. Hal ini terutama harus diperhatikan oleh suami.
4. SUAMI ISTRI SENANTIASA MENJAGA MAKANAN YANG HALALAN THAYYIBAN.
Menurut hadis Nabi, sepotong daging dalam tubuh manusia yang berasal dari makanan haram, cenderung mendorong pada perbuatan yang haram juga (qith`at al lahmi min al haram ahaqqu ila an nar). Semakna dengan makanan, juga rumah, mobil, pakaian dan lain-lainnya.
5. SUAMI ISTRI MENJAGA AQIDAH YANG BENAR.
Akidah yang keliru atau sesat, misalnya mempercayai kekuatan dukun, majig dan sebangsanya. Bimbingan dukun dan sebangsanya bukan saja membuat langkah hidup tidak rasional, tetapi juga bisa menyesatkan pada bencana yang fatal.
Yang berkomentar Aamiin semoga bisa bertemu dengan Nabi Muhammad Saw baik di mimpi, atapun di surga firdaus tanpa hisab berkumpul bersama beliau dan para sholeh sholeha. Aamiin
Rasulallah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1
(satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka
walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)
Subhanallah, Semoga kita dapat mengambil pengetahuan bermanfaat yang bernilai ibadah lewat tulisan ustad Yusuf Mansur ini dan mengamalkan dalam kehidupan sehari - hari. Aamiin






care@4sharelife








